Artikel Islami
UTSMAN BIN MAZH’UN Layaknya seorang manusia dimanapun ia berada pasti akan selalu terkenang dan rindu pada kampong halamannya. Mereka pun membayangkan begitu indahnya jika kampong halaman yang mereka cintai berubah dengan islam. Begitulah harapan kaum muslimin yang berhijrah di habsyi.
Demikianlah kaum muhajirin tinggal di habsyi dalam keadaan aman dan tenteram, diantaranya Utsman bin Mazh’un ia tidak dapat melupakan rencana – rencana jahat saudaranya umayah bin khalaf dan siksa yang ditimpakan atas dirinya.
Walaupun dalam perantauan tetapi mereka memiliki jiwa yang hidup dan selalu bergejolak. Mereka beribadah kepada Allah dengan tekun serta mempelajari ayat-ayat al-quran yang ada pada mereka.
Setelah sekian lama memendam kerinduan dan menunggu saat-saat yang dinanti, sampailah kabar bahwa orang-orang quraisy telah memeluk Islam.
Dengan hati riang mereka menyambut kabar gembira ini. Mereka bangkit dan mengemasi barang-barang mereka, dan dengan cepa mereka ke Makkah, dibawa oleh kerinduan dan didorong cinta pada kampong halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata semua ini hanyalah tipuan belaka dengan tujuan menjebak mereka agar kembali ke Makkah untuk di sakiti.
Ketika itu mereka merasa amat terpukul karena berlaku ceroboh dan tergesa-gesa. Tetapi bagaimana mungkin mereka akan kembali, padahal kota Makkah telah berada di depan mata.
Pada saat itu orang-orang musyrik di kota Makkah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Dan sekarang dtanglah sudah saat mereka, dan nasib telah embawa mereka ke tempat ini.
Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan dihormati.
Barangsiapa mendapat perlindungan, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tak boleh ditumpahkan dan keamanan dirinya tidak perlu dikhawatirkan.
Namun tidak semua orang seberuntung Utsman bin Mazh’un. Ia berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia masuk ke dalam kota Makkah dalam keadaan aman dan tenteram dan menyeberangi jalan serta gang-gangnya, menghadiri tempat-tempat pertemuan tanpa khawatir akan kezhaliman dan marabahaya.
Tetapi ibnu Mazh’un, laki-laki yang ditempa al-quran dan didik oleh Muhammad ini tidak rela jika saudaranya yang lain tidk mendapat seperti yang ia dapatkan.
Bahkan perlindungan tesebut telah menjadi penghalang baginya untuk dapt menikmati derita dijalan Allah dan kehormatan senasib sepenanggungan bersama saudaranya kaum muslimin.
Utsman bin Mazh’un berkata : “ Demi Allah, sesungguhnya mondar-madirku dalam keadaan aman di sebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku.
Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katana : “Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda” kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu? Tidak”, ujar Utsman, “hanya saya ingin berlindung kepad Allah, dan tak suka lagi selain kepadaNya”.
Karenanya pergilah anda ke mesjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriuku”.
Walid berkata, “ Utsman ini dating unutk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya” Utsman berkata: “ Benar apa yang dikatakannya itu, ernyata ia seorang yang memegang teguh janjinya, hanya kenginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala”.
Di salah satu tempat pertemuan kaum quraisy Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair, hingga Utsman jadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka.
Namun ibun Mazh’un membantah syair Lubaid. Lubaid pun mengadu kepada kaumnya: “Hai orang-orang Quraisy demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?”
Maka berkatalah salah seorang di antara mereka: “ Si tolol ini telah meninggalkan agama kita. Jadi tak usah digubris apa ucapannya.”
Utsman membalas ucapannya itu hingga terjadi pertengkaran. Orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu eninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih beradadi dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka Walid berkata: “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh”.
Ujar Utsman: “ TIdak, bahkan mataku yan sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah di alami saudaranya di jalan Allah, sungguh wahai Abu Abdi Syams, aku berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu”.
“Kemarilah Utsman”, kata Walid pula, “jika kamu ingin, kembalilah masuk kedalam perlindunganku”
“Terima kasih” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu.
Dengan mata yang pedih dan kesakitan Ibnu Mazh’un meninggalkan tempat itu, tetapi jiwanya yang besar memancarkan keteguhan hati.
Ditengah jalan ia mendengdangkan pantun: Andaikata daam mencapai ridla Ilahi mataku ditinju tangan jahil orangmulhidi maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalan-Nya. Karena siapayang di ridlai-Nya pasti berbahagia. Hai umat, walau menurut katamu daku ini sesat daku kan tetap dalam agama Rasul Muhammad. Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agam yang haq walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena”.
Setelah dikembalikannya perlindngan kepada Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan itu ia tidak merana, sebaliknya bahagia sungguh-sungguh bahagia.
Siksaan itu tak ubahnya bagai api yang menyebabkan keimanannya menjadi matang dan bertambah murni. Demikianlah, ia maju ke depan bersama saudara-saudara siman, tidak gentar oleh ancaman, dan tidak mundur oleh bahaya.
Utsman bin Mazh’un pun melakukan hijrah yang kedua kalinya ke Madinah hingga tangan-tangan jahat Quraisy tak lagi mampu menjamahnya.
Dan di kota inilah mulai terliha kepribadian yang sebanarnya dari Utsman bin Mazh’un, tak ubah bagai batu permata yang telah diasah, dan tenyatalah kebesaran jiwanya yang istimewa. Kiranya ia seorang ahli ibadah, seorang zahid, yang mengkhususkan diri dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Ilahi.
Pernah suatu ketika ia masuk masjid, dengan pakaian using yang telah sobek-sobek yang ditambalnya dengan kulit unta, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah pun terharu melihat itu, begitu juga para sahaba, air mata mereka mengalir karenanya.
Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh Rasulullah ia merupakan orang muhajirin pertama yang wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surge.
Saat mejelang kematiannya Rasulullah mebungkuk menciumi kening serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata Beliau yang diliputi santun.
Dan berkatalah Rasulullah melepas sahabatnya yang tercinta itu : “ Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saibengkau pergi meniggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang engkau peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu”.
Rasulullah selalu terkenang oleh sahabat mulia ini hingga ketika Rasulullah melepas puterinya Rukayah, yakni ketika ia akan meninggal, Beliau berkata : “ Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan Utsman bin Mazh’un”.

